counter free hit unique web
Medan

Tak Menjadi Tuan di Negeri Sendiri, Dominasi Pekerja Asing asal Tiongkok Bekerja di PLTU Paluh Kurau, Hamparan Perak Deliserdang

Dominasi Pekerja Asing asal Tiongkok Bekerja di PLTU Paluh Kurau, Hamparan Perak Deliserdang

Matahari tepat di atas kepala saat Kapal Telaga Tujoh milik TNI AL bergerak dari Dermaga Belawan menuju Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deliserdang. Kapal itu mengangkut serombongan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dikerjakan PT Mabar Elektrindo.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari 30 menit akhirnya rombongan sampai di PLTU Paluh Kurau. Setibanya di sana, pengawas-pengawas yang berperawakan seperti warga Tiongkok sibuk mengambil gambar rombongan DPD dengan smart­phone. Dari kejauhan mereka “menga­wasi” gerak-gerik kapal sambil berkoord­inasi dengan seseorang nun jauh di sana.

Rombongan pun tiba. Tak ada sambutan khusus dari pihak PT Mabar Elektrindo, yang sibuk hilir mudik menjamu datangnya “tamu tak diundang” itu justru tentara-tentara marinir yang memang memiliki Posko Pengamanan di areal PLTU Paluh Kurau. Rombongan DPD pun “dipaksa” berjalan lebih satu kilometer ke lokasi pertemuan, di bawah sinar terik matahari yang menyengat.

Beruntung juga. Sebab sambil berjalan kami bisa mengamati “kondisi” PLTU dari dekat. Bertemu dengan pekerja-pekerja lokal dan pekerja asing asal Tiongkok. Melihat secara jelas, bagai­mana hampir semua papan-papan pe­ngumuman lebih dominan menggunakan aksara mandarin. Karena banyaknya, seorang teman sempat berceloteh, “Kita seperti di Tiongkok saja ini,” ujarnya yang langsung disambut derai tawa rombongan.

Papan petunjuk yang didominasi aksara mandarin itu seolah menegaskan bahwa proyek triliunan itu dikerjakan oleh perusahaan asal Tiongkok yakni PT Shanghai Electric Power Construction Co Ltd yang merupakan salah satu pemegang konsorsium PT Mabar Elektrindo. Mabar Elektrindo merupakan penanaman modal asing (PMA). Seba­nyak 60% sahamnya dimiliki China Ocean­wide International Financial Management Co Ltd, sementara 20% lainnya dimiliki Shanghai Electric Power dan 20% sisanya milik Garda Sayap Garuda.

Karena dikuasai oleh Tiongkok, maka tak heran bila kemudian pekerja asal Tiongkok mendapat keistimewaan yang lebih dari pekerja lokal. Dengan alasan, pekerja asing memiliki kompetensi yang jauh lebih tinggi dari pekerja lokal, pihak manajemen perusahaan kemudian me­nem­­patkan mess pekerja asing lebih baik dengan fasilitas lengkap bila diban­dingkan dengan mess pekerja lokal, begitu analogi yang digunakan peru­sahaan.

MESS LOKAL: Seorang pekerja sedang berada di mess pekerja lokal PLTU Paluh Kurau.

Kesenjangan antara pekerja lokal dengan pekerja asing memang seperti langit dan bumi. Mess pekerja asing dilengkapi dengan bangunan semi permanen, bercat putih biru dengan pendingin ruangan di setiap kamar, tempat tidur yang layak, areal jemur pakaian, fasilitas shower, akses internet, air bersih hingga fasilitas lapangan basket dan sistem keamanan ada di sana.

Sementara pekerja lokal kita, tak ubahnya seperti barak pengungsian. Dinding terbuat dari papan-papan, satu mess untuk tempat tidur hingga 20-an orang. MCK ala kadarnya dan air bersih sulit mengalir. Jangankan fasilitas wifi, tempat tidur mereka pun hanya beralaskan terpal. Kalaupun ada kasur, itu mereka bawa sendiri dari rumah.

MESS ASING: Seorang pekerja asing asal Tiongkok sedang berada di mess pekerja asing PLTU Paluh Kurau.

Seorang pekerja, yang dengan alasan keselamatan tak diungkap namanya, bercerita. Setiap malam mereka ke­di­nginan karena angin laut yang menyergap, sementara saat istirahat siang hari mereka tak bisa tidur, panas bukan kepalang. “Kamar mandi kami hanya berdindingkan plastik hitam. Sementara tempat buang air letaknya jauh dari mess,” kata pekerja yang mengaku sudah hampir setahun berada di Paluh Kurau itu.

“Perbedaan fasilitas membuat kami sangat iri. Padahal kerja kami sama, buruh kasar. Kalau kami memotong besi, mereka juga memotong besi. Kami menyusun batu, mereka (pekerja asing) juga menyusun batu. Hampir tak ada bedanya. Mereka bukan mandor, juga bukan memiliki keahlian khusus. Sama kerjanya seperti kami,” imbuhnya lagi.

Ia menjelaskan, yang menjadi penga­was hanya segelintir orang. Jumlahnya hanya puluhan. Sementara data dari Kantor Imigrasi Belawan, jumlah pekerja asing asal Tiongkok 171 orang. “Berun­tung juga kalian melihat kondisi kami. Hari libur kami juga berbeda, kami sering dipaksa lembur sementara pekerja asing sering libur dua sampai tiga hari. Kalau libur mereka sering pulang ke Tiongkok. Kalau kami? Meskipun kampung kami di sini, kami tak pernah diberi kesempatan pulang,” keluhnya.

Seorang pekerja lainnya menjelaskan, gaji antara pekerja asing dengan pekerja lokal juga sangat jauh berbeda. Kabarnya, gaji seorang tukang sapu yang dida­tang­kan dari Tiongkok, bila dirupiahkan besarannya Rp12 juta. “Setahu saya itu yang paling kecil. Sementara pekerja buruh kasar lokal hanya digaji Rp90 ribu perhari,” ujarnya.

Senator asal Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara sempat menyinggung persoalan kesenjangan itu. Soal mess, Dedi berharap pihak perusahaan segera membe­nahi dan mempersempit kesen­jangan antara pekerja lokal dan pekerja asing.

Sambil menggaruk-garuk kepala, Project Manager PT Mabar Elektrindo Li Chengwu menjawabnya. “Mess lokal disesuaikan dengan budaya lokal,” jawabnya. Mendengar jawaban itu, Parlindungan Purba mengingatkan agar pihak perusahaan segera membenahi mess karyawan lokal.

“Tolong buat lebih manusiawi, kita lihat jauh sekali bedanya,” tegasnya.

Sementara soal gaji, Kepala Dinas Tenaga Kerja Sumut Bukit Tambunan mengatakan pihaknya sudah me­ng­kroscek bahwa gaji pekerja lokal sudah sesuai dengan UMR. Sementara gaji pekerja asing, tidak ada batas maksi­malnya. “Yang pekerja asing itu kan pu­nya kompetensi jadi batas maksi­malnya tidak ditentukan. Soal fasilitas juga tentu berbeda dong, kamu saja misalnya wartawan dengan redaktur pasti fasi­litasnya beda kan?,” kata Bukit menjawab pertanyaan Analisa.

Soal kompetensi yang menurut pekerja lokal, pekerja asing juga merupakan buruh kasar, Bukit menyangkalnya. “Tidak, tidak kita sudah mendata mereka semua punya keahlian di bidangnya. Kalau buruh kasar kenapa harus diambil dari sana (Tiongkok)? Kita sudah melakukan verifikasi ke lapangkan kok,” imbuhnya.

Realita di lapangan mengungkap fakta lain. Pekerja lokal kita menaruh harapan yang besar adanya perbaikan dari sektor hak dan kewajiban antara pekerja lokal dengan pekerja asing. Kedatangan rombongan DPD RI yang didampingi Kapolres Belawan, Danlantamal Bela­wan, Kadisosnaker Deliserdang dan Pemprovsu, Imigrasi, perwakilan camat dan kepala desa serta insan pers itu seharusnya mampu melihat jurang kesenjangan yang begitu lebar antara pekerja asing dan pekerja lokal. Bukan sebaliknya, justru berpihak pada asing daripada saudara se tanah air mereka.

Proyek PLTU Paluh Kurau itu sendiri ditargetkan selesai pada Oktober 2018. Artinya, kalau tak ada pembenahan serius, pekerja lokal kita akan “menderita” lebih kurang dua tahun lagi. Mereka bekerja di tanah mereka sendiri. Tapi sayang, mereka tidak menjadi tuan di negerinya sendiri.

Sumber : Analisa Daily

Di Share dan Berikan Pendapatmu 🙂

Video Medan Pilihan : Nyaris Saja, Begal Medan Ini Hampir Saja Dibakar Massa

Berita Seputar Medan

1. Video Live, Pemuda Tionghoa Ini Tabrak Ibu dan Anak dan Nekat Lawan Warga
2. Warga Tinghoa Pemilik Gudang Ilegal ini Ancam Tembak dan Cekik Wartawan
3. Begal Medan Ini Tewas Kepalanya Remuk di Pukuli Warga Jalan Veteran Medan
4. Begal Ditembak Mati Tim Anti Begal Polresta Medan, Begini Kronologi Lengkapnya
5. Inilah Kedua Begal Sadis Medan, Yang Kiri Namanya Kiki Sedangkan Kanan Namanya Iga

Berita Trending Pilihan

Loading...

Leave a Comment

error: Jangan Sembarang Klik Bos..!!!

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com